Your Page links

Ad

Alquran
Pusaka PTIQ. Diberdayakan oleh Blogger.
 
Jumat, 03 Februari 2012

Agama Penguat Ketahanan Bangsa


Oleh Sahlul Fuad


Gejolak konflik antar umat beragama di Indonesia dalam dua dasawarsa terakhir tampak lebih sering dibanding sebelumnya. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh kerjasma Yayasan Wakaf Paramadina (YWP), Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik, Universitas Gadjah Mada (MPRK-UGM), dan The Asia Foundation (TAF) tentang pola-pola Keagamaan di Indonesia (1990- Agustus 2008) menunjukkan jumlah konflik yang berbasis agama terjadi sebanyak 832 insiden dengan beragam pola. Kasus ini lebih intens terutama pada dasawarsa terakhir.
Baru-baru ini Watimpres bidang keagamaan juga mengumumkan pada media massa bahwa selama dua tahun terakhir, 2008-2010, Indonesia telah mencatat 28 kasus konflik yang berbasis agama. Bahkan potensi terbesar terjadinya konflik ini diperkirakan berada tidak jauh dari pusat pemerintah Indonesia, karena selama dua tahun ini terdapat tujuh kasus konflik umat beragama yang berada di Jawa Barat dan Jakarta.

Walau tidak seluruh konflik ini dalam bentuk tindak kekerasan, namun hal ini menunjukkan fenomena kerentanan hubungan antar umat beragama. Konflik ini juga tidak hanya terjadi antar umat beragama yang berbeda, tetapi juga terjadi pada umat satu agama. Sedangkan isu-isu pemantik konflik yang mengemuka antara lain isu komunal, isu moral, isu politik-keagamaan, isu sektarian, isu terorisme, dan isu lainnya. Padahal konstitusi negara ini telah menjamin warganya untuk memeluk agama dan keyakinannya masing-masing. Sebagaimana termaktub dalam Pasal 28E UUD NKRI 1945 yang berbunyi.

(1)   Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.
(2)   Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

Indonesia memang bangsa yang memiliki jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Berdasarkan sensus tahun 2000, jumlah suku yang yang hidup di negeri ini berjumlah 1.128 Suku Bangsa dengan komposisi Jawa 40.6%, Sunda 15%, Madura 3.3%, Minangkabau 2.7%, Betawi 2.4%, Bugis 2.4%, Banten 2%, Banjar 1.7%, dan lain-lainnya 29.9%. Sedangkan jumlah agama yang resmi diakui negara berjumlah 6 agama, dengan komposisi Islam 86,1%, Protestant 5,7%, Katolik 3%, Hindu 1,8%, dan lain-lain 3,4%. Melihat komposisi penduduk yang sangat beragam ini Indonesia bukan hanya besar jumlahnya, tetapi juga multikultural. Keberadaan multikultural ini sudah hidup berdampingan selama beratus-ratus tahun lamanya.

Kondisi komposisi penduduk yang sedemikian rupa ini merupakan kekayaan atau kekuatan dan sekaligus kelemahan yang mengandung persoalan besar dan membutuhkan penanganan serta pendekatan ekstra hati-hati. Jika kebijakan yang dikeluarkan oleh negara atau pemerintah sedikit meleset potensi konflik yang besar bisa meledak di mana-mana. Apalagi masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan masih 14,15%. Sebuah angka yang cukup tinggi dan rawan konflik.

Tentu saja kondisi ini bukanlah sesuatu yang diharapkan oleh bangsa ini. Sebaliknya, cita-cita bangsa dalam menciptakan pemerintah Negara Indonesia dalam rangka untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Secara konstitusional, bangsa ini juga merumuskan bahwa negara ini berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan menjamin kemerdekaan penduduk untuk memeluk agama dan menjalankan ibadat sesuai dengan kepercayaannya. Namun karena maraknya konflik-konflik antar umat beragama selama ini, yang diduga karena kemacetan pada unsur agama, pemerintah mengeluarkan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PBM) No. 9 dan No. 8 Tahun 2006 yang mengatur tentang pedoman pelaksanaan tugas kepala daerah/wakil kepala daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama (FKUB), dan pendirian rumah ibadat.

Sedangkan faktor yang menjadi pemicu konflik atau menghambat kerukunan umat beragama antara lain: (1) Pendirian rumah ibadah dengan tidak memperhatikan situasi dan kondisi umat beragama baik secara sosial maupun budaya masyarakat setempat. (2) Penyiaran agama yang dilakukan secara agitasi dan memaksakan kehendak bahwa agamanya sendirilah yang paling benar. (3) Penodaan agama dengan cara melecehkan atau menodai doktrin suatu agama tertentu. (4) Kegiatan aliran sempalan yang dianggap menyimpang dari doktrin agama yang sudah diyakini kebenarannya ataupun kegiatan tersebut merupakan suatu aliran baru.

Persoalan yang mengemuka berdasarkan problem-problem di atas adalah, bagaimana mewujudkan ketahanan bangsa dalam rangka mencapai kesatuan dan persatuan bangsa dengan potensi konflik yang besar ini? Apakah faktor agama memiliki daya yang efektif dan strategis sebagai penguat ketahanan bangsa ini?

Bangsa Di Tengah Arus Globalisasi Peradaban

Ketahanan bangsa Indonesia merupakan kondisi dinamik bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam, untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan guna mencapai tujuan nasionalnya.

Kerentanan sosial, dengan potensi konflik yang dimiliki bangsa ini, selalu diintai berbagai persoalan yang bisa datang dari dalam maupun dari luar negeri ini. Terbukanya arus informasi yang berimplikasi pada penyempitan dunia tidak saja menghadirkan kabar gembira, tetapi juga rasa was-was yang tiada henti. Menjalani kehidupan yang transparan ini, generasi muda semakin lama tidak semakin mengenal jatidirinya sebagai bangsa Indonesia. Mereka tersilaukan gemerlap kehidupan luar yang terbungkus rapih dalam mode dan branding yang dikemas apik. Dunia luar begitu memesonai kawula muda bangsa ini. Mereka menjadi cenderung individualistik dan mengkonversi nilai-nilai luhur dengan mata uang. Mereka menjadi abai pada ikatan-ikatan sosial yang pernah dijalin kuat melalui tradisi-tradisi yang dikreasi para nenek moyang.

Pada saat bangsa ini mabuk fatamorgana kemewahan branding dan mode yang diimpor dari negeri asing, bangsa ini akan muntah dan mengalami kekosongan identitas, jatidiri, keyakinan, dan sebagainya. Lalu, bangsa ini menjadi santapan liar drakula-drakula kapitalisme yang tidak pernah terpuaskan dahaganya oleh darah-darah negeri yang menjadi pasarnya. Betapapun banyak keringat hingga berupa keringat darah yang dikeluarkan untuk menghasilkan pundi-pundi dari negeri ini, semuanya akan diberikan secara sukarela pada drakula-drakula kapitalisme itu hingga bangsa ini menjadi kering. Padahal potensi produksi bangsa ini masih ketinggalan jauh oleh potensi konsumsinya.

Sementara di sisi lain bergerak arak-arakan panji agama juga menyerang bangsa yang mengalami kekosongan ini. Panji-panji agama yang diharapkan menjadi penyelamat itu ternyata hanya kemasannya saja. Watak-watak jahat yang menyusup dalam jubah agama ini juga tidak kalah kejamnya dibanding para penghisap kapital. Nyawa bangsa ini dijadikan tumbal, darah-darah menggenang, dan martabat bangsa yang dikenal santun dan wibawa mendadak lenyap. Lalu bangsa ini dilihat dunia sebagai bangsa religius yang memiliki ritual kekerasan dan anti kemanusiaan yang beradab.

Fenomena bangsa ini tak bisa hanya dipahami sebagai bangsa tidak berperadaban dan/atau tidak memiliki penghayatan ajaran agama semata. Keseimbangan antara nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan tidak bisa dipungkiri signifikansinya. Selama dua kutub pandangan hidup yang ekstrim ini tidak pernah didekatkan melalui berbagai dialog, dua kutub ini tidak akan pernah berhenti saling memusuhi. Akibatnya, kedua kubu saling rebut simpati pada kelompok-kelompok masyarakat yang sebenarnya berada di grey area.

Perubahan sikap akibat arus informasi global yang terbuka ini memang tidak bisa dihindarkan. Justru tantangan yang dihadapi bangsa yang memiliki keanekaragaman penduduk ini tidak lain dengan memperkuat jatidiri bangsanya. Kekosongan-kekesongan jatidiri harus segera mungkin diisi dengan nilai-nilai yang selama ini dibangun oleh nenek moyangnya. Jangan sampai kekosongan nilai-nilai luhur ini direbut oleh gagasan-gagasan bangsa asing yang tidak memiliki akar budaya yang berbeda sama sekali. Walau terkadang gagasan-gagasan yang datang dari luar tersebut tampaknya baik, namun karena tidak memiliki akar budaya dengan bangsa ini justru menjadi tidak kompatibel dan konflik.

Agama Sebagai Perekat Bangsa

Bangsa merupakan suatu kelompok manusia yang diikat oleh identitas bersama, dan mempunyai bahasa, agama,  ideologi,  budaya, dan/ atau pengalaman sejarah yang sama. Pada umumnya mereka diikat oleh latar belakang dan asal-usul keturunan yang sama.

Meskipun bangsa Indonesia merupakan bangsa dengan keanekaragaman identitas, namun bangsa ini disatukan pengalaman sejarah dan budaya yang hampir sama. Walaupun berbeda agama, pengalaman sejarah dan budaya ini mampu menyatukan mereka. Untuk itu, agama yang masuk ke bangsa ini sangat kental dengan nuansa budaya yang berkembang di kawasannya masing-masing. Agama dan budaya menjadi satuan entitas yang tidak bisa dipisahkan.

Antara agama dan budaya hidup saling mengisi dan menggerakkan. Agama tanpa budaya tidak bisa hidup, dan budaya tanpa agama akan mati di tengah perjalanan. Agama merupakan satu sistem budaya yang paling penting dalam menggerakkan ke mana perjalanan yang ingin dicapai.

Pada mulanya, agama yang hadir di bangsa ini tidak disampaikan dengan jalan paksaan atau perang. Agama-agama ini tidak hadir untuk mengadu-domba. Para Brahmana, Biksu, Ulama, Pastor, dan Pendeta mendidik bangsa ini dengan ajaran-ajaran yang diyakininya agar menjadi bangsa saleh. Mereka mengajarkan agama secara mengalir sebagaimana kehidupan sehari-hari yang dijalani bangsa ini. Mereka menyampaikan ajaran-ajarannya melalui tembang-tembang, nyanyian, syair-syair, dan yang paling utama melalui perbuatan dan ungkapan yang baik.

Para penyiar agama di negeri tidak membawa makanan siap saji. Mereka mengajak masyarakat untuk mencari dan menggali bahan-bahan mentah kehidupan ini untuk kemudian diolah dan dirasakan. Oleh karena itulah, masyarakat tanpa sadar telah mengubah sikap dan prilakunya selama ini. Justru sebaliknya, manakala agama-agama telah mapan di negeri ini, konflik bermunculan. Mereka berebut tafsir kebenaran dan saling tikam bagi yang dianggap melanggar. Padahal kondisi ini merupakan cara-cara yang sudah keluar dari tradisi kehidupan berbangsa dan beragama yang diajarkan para pendahulunya.

Agama diajarkan pada umat manusia ini pada dasarnya berisi tentang gagasan-gagasan ideal kehidupan. Meskipun pada awalnya ajaran ini lebih diarahkan pada pembentukan pribadi yang saleh, namun setelah pembentukan pribadi-pribadi ini tercapai akan membentuk komunitas atau kelompok yang saleh juga.

Jika dua entitas ini, agama dan bangsa, tiba-tiba saja membelah satu sama lainnya maka keduanya harus ditilik kembali, khususnya unsur penggeraknya, yakni agama. Apakah unsur-unsur dalam agama atau budaya yang mengalami kemacetan. Kemacetan salah satu unsur agama, yang terdiri atas Pencipta, hal-hal gaib, cara mengabdi pada Pencipta, ajaran utama yang disampaikan, dan penganutnya, seringkali terjadi pada unsur terakhirnya, yang penganutnya. Untuk itu, yang perlu dilakukan  adalah peningkatan pemahaman dan penghayatan terhadap agama dan keyakinannya sesuai dengan karakter budaya yang dimiliki oleh bangsa ini. Dengan demikian, agama bisa menjadi motor penggerak dalam menguatkan ketahanan bangsa dari segala tantangan, hambatan, ancaman, dan gangguan dari mana pun.



0 komentar

Leave a Reply

 
Pusat Studi Al-Quran dan Kebangsaan © 2011 SpicyTricks & ThemePacific.